jf_pratama posted on 25-3-2007 05:15 PM

INDONESIAN MOVIES (Gallery and Discussion)

FilmSuster N Mulai Diproduksi


Horormasih akan menjadi menu utama perfilman di tanah air. Setelah sejumlah filmbertema hantu bermunculan di pasaran Indonesia, film Suster N rencananyaakan menambah koleksi film horor kita. Saat ini pembuatan film itu sedangdilakukan di sebuah lokasi syuting di daerah Jawa Barat dan diperkirakan akanberada di pasaran pada akhir tahun ini.

Suster Ndisutradarai oleh Viva Westi, dan didukung oleh sejumlah bintang muda sepertiWulan Guritno, Atiqah Hasiholan, Lukman Sardi. Sementara actor senior yangmendukung film itu adalah Ratna Riantiarno, Jajang C Noor, Ade Irawan, TitiQadarsih, HIM Damsyik, dan Henky Solaiman.

Selainsebagai sutradara, Viva Westi juga bertindak sebagai penulis skenario.Sutradara jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sebelumnya banyak membuatfilm televisi, seperti Malam Pertama, Virgin the Series, Wo Ai Ni Indonesia,dan Janji Bidadari. Film terakhir tadi sempat menjadi nominasi tujuhkategori Piala Vidia pada Festival Film Indonesia 2006.

Sebagaipenulis skenario Westi pernah menulis untuk Jangan Panggil Aku Cina, danMalam Pertama. Untuk film Suster N ini sang sutradara berusahamenciptakan konsep film horor yang lain dari yang pernah ada. Film ini dibuatbukan untuk menakut-nakuti, tetapi akan dibuat menakutkan.

Produserfilm itu, Ferry Angriawan, menyebutkan film horor yang ada di pasaran saat iniselalu lemah dalam unsur logika cerita. Penonton hanya dibuai olehgambar-gambar yang menakutkan saja, tetapi ceritanya tidak utuh. "Mungkinuntuk segmen anak muda hal itu oke-oke saja. Mereka menonton, kemudianteriak-teriak dalam bioskop, tetapi sebenarnya film itu tidak enak jikaditonton beberapa kali," ujarnya.

Film yangmenelan ongkos produksi hingga Rp 2,5 milyar ini rencananya akan menyajikansebuah alur cerita yang lengkap dan tidak hanya menyuguhkan gambar yang seram.Ide cerita yang dibesut oleh tim dari PT Virgo Putra Film itu disebutkan sudahmelalui pengamatan di masyarakat mengenai kisah-kisah yang berkembang tentang susterngesot.

Cerita SusterN akan mengambil setting di sebuah panti jompo yang merupakan bangunan tuapeninggalan zaman Belanda. Bangunan itu berada di atas bukit yang misterius.Menurut Ferry, cerita akan berkembang menarik dan tidak mudah ditebak."Kami ingin membuat film yang tidak hanya menarik saat pertama kaliditonton saja, tetapi film Suster N ini akan tetap menarik meskipunsudah ditonton berkali-kali," ujar Ferry.

WulanGuritno, yang menjadi salah satu pemeran utama dalam film itu menyebutkan alasandirinya menerima tawaran bermain dalam film ini adalah karena ceritanya yangmenarik. "Di sini segala sesuatunya ada alasannya, tidak dipaksakan ataudiada-adakan," ujarnya.

SementaraTiti Qadarsih yang memerankan tokoh Ibu Ayu yang memiliki kemampuan supranaturalmenyebutkan bermain dalam film ini adalah sebuah kesenangan karena bisa reunidengan aktor-aktor lama.

"Bersama-samadengan teman lama dalam waktu yang lama sebenarnya sudah jarang dilakukan. Iniadalah kesempatan," ceritanya.
HenkySolaiman yang berperan sebagai Opa Freddie akan memanfaatkan kemampuanberbahasa Belanda dalam film ini. Henky memuji alur cerita film ini yangmenurutnya memiliki kewajaran yang umumnya diabaikan. Sementara HIM Damsyikmemuji film ini akan memberikan ketegangan yang baik. "Hati-hati yangpunya penyakit jantung," ujarnya.

Salahsatu pemeran utama pria, Bob Seven, menyebutkan cerita yang ditawarkan menarikdirinya. "Selain ceritanya tak mudah ditebak, banyak karakter yangmenarik," ujarnya. Namun bagi lelaki yang wajahnya sering dijumpai padaiklan billboard sebuah provider telepon seluler itu, film ini akanmemberikan kesempatan baginya untuk menambah keahliannya berakting. Di film ituBob akan berperan sebagai Jonathan.

Membuatfilm horor yang berbeda dengan film-film horor yang sudah ada memang sebuahtantangan tersendiri. Bagi Vira Westi yang tiba-tiba menangani film hororadalah karena terinspirasi dari film horor Recycle asal Thailand yangmendapat penghargaan Un Certain Regard di ajang Cannes Film Festival,Prancis.

Westiyang menyaksikan penghargaan itu karena film keroyokan Serambi masukdalam nominasi di festival itu. Kala itu pulang dari Perancis, Westiberpendapat meskipun film horor tetapi jika digarap dengan serius maka hasilnyabisa membanggakan.

"Tapitujuan utama pembuatan film ini bukan untuk mendapat penghargaan seperti itu.Yang paling membuat seorang sutradara menjadi bahagia adalah manakala karyanyaditonton banyak orang," ujarnya dalam sebuah wawancara.

Saat inisyuting sudah dimulai di sebuah gedung tua peninggalan Belanda di Subang, JawaBarat. Publisis Suster N, Rita Dipa, menyebutkan seluruh kru sudah berada dilokasi dan kemarin sudah menggelar syukuran kecil-kecilan. Mendoakan untukkeselamtan pengerjaan film itu.

Dikaitkandengan lokasi syuting yang horor juga, Westi mengaku mendapat nasehat yang baikdari salah satu krunya. "Yang paling penting adalah, semuanya harusbermula dari niat baik. Dengan adanya niat baik, sehoror apapun tempat yangkita pakai bekerja, akan menjadi tempat yang baik pula," kutipnya.

[ Last edited by  jf_pratama at 25-3-2007 05:48 PM ]

jf_pratama posted on 25-3-2007 05:40 PM

JAKARTA UNDERCOVER

Cerita Malam Waria Gadungan

Film: Jakarta Undercover
Pemain: Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar & Christian Sugiono
Sutradara : Lance
Skenario: Joko Anwar
Genre : Drama/Thriller
Produksi : Velvet Films

Melihat judul Jakarta Undercover (JU) benak penonton akan teringat buku karangan Moammar Emka. Namun ekspektasi visual petualangan dunia malam yang dieksploitasi Emka dalam buku best seller-nya sebaiknya disimpan dulu. Film JU bukan visualisasi dari buku.

JU hanya menjadikan dunia gemerlap malam Ibukota sebagai setting cerita. Tidak lebih. Jadi jika berharap akan menemukan kisah yang melulu bertutur pada petualangan seks dengan bumbu wanita berbusana minim bahkan telanjang, penonton bersiap-siaplah kecewa.

JU berkisah tentang Vikitra atau Viki (Luna Maya), seorang penari erotis yang bekerja di klub Overlust milik Jeffry (Christian Sugiono). Sejatinya, klub ini hanya menyediakan aksi tari sensual yang ditampilkan para waria. Maklum, Overlust mengambil segmentasi pengunjung dari kalangan gay dan lesbian. Viki bisa menyelusup masuk dengan bantuan sahabat sekampungnya, Amanda (Fachri Albar), yang juga bekerja di situ.

Viki punya alasan untuk menjadi penari di klub tersebut. Ia kabur dari rumahnya di Medan, membawa serta sang adik yang autis, Ara (Kenshiro Arashi) setelah membunuh sang ayah (Ray Sahetapy) yang sering memukuli ibunya (Tutie Kirana). Di Overlust, Viki memalsukan identitasnya sebagai wanita tulen dan menjadi waria gadungan agar bisa diterima bekerja. Jika sedang bertugas menari di pentas, Ara yang gear kegelapan dimasukkannya ke dalam lemari di ruang rapat klub.

Suatu malam, Haryo (Lukman Sardi), beserta dua orang rekannya, Yosef (Verdi Solaeman) dan Teddy (Adry Valery Wens), datang menonton. Ketiganya merupakan pengunjung setia Overlust dan sahabat Jeffry. Menyaksikan penampilan Viki, mereka minta pelayanan lebih di atas ranjang. Namun Viki menolak. Jeffry kemudian "menyuguhkan" seorang penari lainnya yang mau ditiduri Haryo. Saat melepas nafsu, Haryo tanpa sengaja membunuh sang penari waria. Kejadian itu disaksikan oleh Ara yang ada di dalam lemari.

Mulailah petualangan Haryo cs versus Viki dan Ara. Haryo yang merupakan anak seorang hakim terkenal panik. Pembunuhan yang dilakukannya itu meninggalkan saksi mata. Ia mengejar Viki dan Ara dengan maksud membungkam mulut mereka.

Untuk sisi orisinalitas, selain mengadopsi judul dan beberapa gagasan dalam buku Jakarta Undercover, film ini juga mengambil ide film Connie and Carla. Film produksi Hollywood itu ditulis dan dibintangi Nia Vardalos, sang nominee Piala Oscar lewat My Big Fat Greek Wedding.

Ide dasarnya sama, tentang wanita tulen yang menyamar jadi waria, bekerja di klub waria dan menyaksikan pembunuhan. Bedanya, Connie and Carla menyuguhkan komedi romantis dengan bumbu thriller, sementara JU murni menyuguhkan thriller tanpa ada unsur romantis sama sekali.

Banyak Kejutan

Untunglah, sesuai genre suspense thriller yang diusungnya, JU tidak tanggung dalam menggenjot adrenaline penonton. Nyaris tiap adegannya memberikan kejutan yang siap membuat penonton terkaget-kaget. Jadi, kepada para penikmat film-film komedi dan percintaan, sebaiknya jangan menyaksikan film ini. JU tidak akan membuat air mata mengalir atau mulut tertawa terbahak-bahak. Justru urat saraflah yang jadi sasaran, serta jantung yang berdetak cepat.

Deretan aktor dan aktris berwajah rupawan juga menjadi salah satu daya tarik di sini. Para penggemar Luna Maya akan dipuaskan dengan lenggak-lenggok aktris kelahiran Bali ini. Memang, aksi Luna di depan kamera sebagai penari sensual tidak seekstrem penari striptease. Ia tidak tampil telanjang seperti Demi Moore dalam film Striptease. Luna hanya menari dengan gaya sensual dalam balutan busana minim. Tidak ada adegan buka-bukaan bahkan topless sekalipun.

Yang patut dipuji adalah penampilan dari Fachri Albar. Putra rocker Achmad Albar ini disulap menjadi waria cantik yang menjadi penari. Meski mengaku kaget dan bingung kala ditawari, akting Fachri tidak mengecewakan. Gerak-gerik, tutur kata dan bahasa tubuhnya benar-benar tampak seperti waria betulan. Wajahnya yang tampan didandani hingga menjadi cantik, tak kalah dengan wanita asli. Sayang, akting Fachri hanya bisa dinikmati hingga sepertiga film saja. Jika saja lebih lama, mungkin film ini akan menjadi lebih berwarna lagi.

Lukman Sardi juga tampil memukau seperti biasa. Aktingnya sebagai Haryo yang temperamental, grasa-grusu, sok jagoan namun menggemari hubungan seksual dengan waria dibawakan dengan baik. Lukman tidak ragu-ragu mencium bibir waria betulan, bahkan tampak sangat menikmati kala digambarkan berhubungan seks dengannya. Karakter temperamental diterjemahkannya dengan tendangan, tonjokan dan kata-kata makian yang bertaburan di sepanjang film.

Ramuan suspense, thriller dan kehidupan malam membuat Jakarta Undercover pantas diberi rating 17 tahun ke atas. Penggambaran adegan seks dan penari sensualnya memang tidak separah film-film Hollywood. Namun untuk sebuah film Indonesia, film ini cukup vulgar.

Apalagi, kata-kata makian yang kasar dan vulgar sangat "ramah" dihadirkan di sini. Dari bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa preman hingga bahasa daerah, semua lengkap. Jadi, jangan nekad membawa serta kerabat atau teman yang usianya di bawah 17 tahun. Meski sudah lolos sensor, JU masih menyisakan adegan khusus dewasa. Sungguh tidak pantas disaksikan remaja dan anak-anak.

[ Last edited by  jf_pratama at 25-3-2007 05:43 PM ]

jf_pratama posted on 26-3-2007 06:40 PM

NAGABONAR 2


Genre        Comedy Drama
Pemain        Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Uli Herdinansya, Darius Sinathrya, Michael Mulyadro
Sutradara        Deddy Mizwar
Produser        -
Distributor        -
Penulis Naskah        Musfar Yasin
Durasi        -
Tanggal Rilis        29 Maret 2007 (Indonesia)

Sinopsis:

Film ini merupakan sekuel dari NAGABONAR, produksi 1986, yang saat itu sukses meraih prestasi kualitas (Film Terbaik FFI 1987) sekaligus mendulang prestasi dalam mengumpulkan jumlah penonton.

Diproduksi atas kerjasama PT Demi Gisela Citra Sinema dengan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi, film “NAGABONAR jadi 2

jf_pratama posted on 6-4-2007 12:26 PM

RUUPerfilman Dikebut


LaporanWartawan KCM Eko Hendrawan Sofyan


JAKARTA,KCM - Rancangan Undang-undang (RUU) Perfilman yang baru akansegera dikebut penyelesaiannya agar segera menjadi payung hukum yangmengakomodasi seluruh insan perfilman nasional. Hal tersebut disampakan MenteriKebudayaan dan pariwisata Ir. Jero Wacik saat melantik anggota BadanPertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) masa bakti tahun 2006-2009 di gedung Sapta Pesona, KantorMenbudpar, Jakarta, kamis (5/4).

Dalamsambutannya, Jero meminta BP2N dalam waktu dekat bisa membantu menyelesaikansesegera mungkin permasalahan yang terjadi di dunia perfilman nasional.Misalnya, berbagai tuntutan yang didukung Masyarakat Film Indonesia (MFI)mengenai plagiarisme. Menurutnya, kasus yang menjadi polemik sebaiknya segeradiselesaikan baik melalui jalur hukum atau dengan musyawarah. MFI sebelumnyamempertanyakan indikasi plagiat pada film yang memenangi piala Citra diFestival Film indonesia (FFI). Indikasi plagiat juga marak dilakukan padaproduksi sinetron yang diputar di berbagai layar kaca saat ini.

"BP2Ndan LSS (lembaga sensor film) adalah lembaga yang punya posisi penting dalamkemajuan perfilman nasional," Jero menegaskan. Karena itu, dalam programjangka pendeknya, seluruh anggota BP2N harus bekerja keras untuk menyelesaikanRUU Perfilman yang baru yang dapat mengakomodasi kepentingan insan perfilman.

Iamenambahkan, tugas mendesak yang juga harus segera dilakukan BP2N adalahmenjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait baik legislatif maupun ekeskutifuntuk mempercepat proses revisi UU No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman. Sebab,UU yang berlaku sampai sekarang itu sudah tidak sesuai dengan perkembanganzaman dan tuntutan perfilman nasional.

"AnggotaBP2N harus sesegera mungkin menuntaskan RUU perfilman yang baru. Kalau inirampung berarti ada landasan hukum agar kita semua terakomodir," kata H.Djonny Syafruddin, salah satu mantan ketua BP2N tahun lalu. Menurut Djonny,BP2N juga punya tantangan untuk memperbarui pedoman yang mengatur pelaksanaanFFI  sehingga ke depan bisa lebih baik dan mengakomodir semua tuntutanseluruh kalangan perfilman.

Haltersebut penting dilakukan karena film merupakan salah satu sarana penting yangdapat mengangkat citra bangsa dan membentuk karakter masyarakat. Menurut Jero,film adalah karya budaya yang menjadi potret zaman dan hal tersebut akan terusdipertontonkan kepada generasi selanjutnya bahkan dunia internasional.Karenanya, ia berharap sutradara dan produser membuat film dengan tema yangdapat memberi pengaruh kuat dalam pembentukan karakter masyarakat. Dia jugaberharap, film menjadi industri yang dapat memberi efek manfaat yang besar,baik dalam bentuk penyediaan lapangan kerja hingga mendorong kemajuanperekonomian nasional.

Dalamkesempatan tersebut, Jero mengukuhkan 22 anggota BP2N berdasarkan KeputusanPresiden Nomor 157/M Tahun 2006. Anggota BP2N periode 2006-2009 ini terdiri dari akademisiperfilman, tokoh perfilman, budayawan, asosiasi perfilman, sineas, serta lembagapemerintahan. Antara lain, Deddy Mizwar, Slamer Rahardjo Djarot, N. Riantiarno,L. Manik, JB Kristianto, serta sejumlah produser seperti Chand Parwez Servia,Yenny Rachman, Enison Sinaro, dan Raam Punjabi, Usai dilantik, para anggotasaat ini tengah melakukan Sidang Pleno pertama untuk memilih ketua danperangkat kelembagaan untuk menentukan langkah-langkah strategis lainnya.

jf_pratama posted on 6-4-2007 12:35 PM

Rendra"Lari dari Blora"

JAKARTA-LariDari Blora (LDB), sebuah film drama tentang kehidupan masyarakatSamin di desa antara Pati-Blora, Jateng segera digarap dengan melibatkan WSRendra sebagai salah satu pemeran utamanya.

Filmyang beranjak dari cerita dan skenario Akhlis Suryapati yang sekaligus menjadisutradara itu, akan memulai produksinya bulan ini dengan lokasi syuting diJakarta, Kabupaten Blora, Pati, Rembang dan Jepara.

MenurutEgy Massadiah, produser BAR Pictures, film kolosal yang juga melibatkan pemainasli dari Pati-Blora, itu melibatkan para pekerja film yang telah berpengalamandi bidangnya masing-masing. Tercatat di antaranya Bobby Sandy sebagaisupervisor, Rus Y Sapari (penata kamera), Yuana M (penata artistik), HornadySetiawan (penata gambar), Wong Che Keung (paska produksi), dan Ariyanto Pepes(penata suara).

Selainitu ada pula beberapa bintang muda seperti Ardina Rasti Annika Kuyper, TinaAstari, Iswar Kelana, Soultan Saladin, Nizar Zulmy, Brata Sentosa, dan OktavKriwil.
Akhlisberharap film ber-genre drama-roman yang menelan biaya Rp 3 miliar lebihini dapat memberikan alternatif lain terhadap khazanah perfilm Indonesia yangcenderung didominasi tema seragam.

LDB yangpernah menjadi juara tiga Lomba Penulisan Skenario 2005, pusat pengisahannyaberpangkal pada kehidupan masyarakat Samin. "Samin adalah masyarakatdengan akar budaya yang eksklusif," ujar WS Rendra. Dari akar budaya yangdibangun Samin Surosentiko atau Raden Kohar, kelahiran 1895 itulah ajarantersebut disebarkan. (G20-45)

jf_pratama posted on 6-4-2007 02:22 PM

Jumat,06 Apr 2007,
Peluang Terkenal di Luar Negeri
file:///C:/DOCUME%7E1/Windows/LOCALS%7E1/Temp/msoclip1/01/clip_image001.jpg

Untuk kali pertama, pasangan artis Titi Kamal dan Christian Sugiono beraduakting dalam satu judul layar lebar. Film bertajuk Tipu Kanan…Tipu Kiri (TKTK)besutan sutradara Sharad Sharan itu rencananya dirilis Agustus mendatang.Mengambil waktu syuting selama 40 hari, film tersebut bakal diluncurkan diempat negara lain selain Indonesia. Yaitu, Malaysia, Brunei Darussalam,Singapura, dan India. Judul internasional untuk film tersebut adalah 100 LiesTo Hide A Wife.

Bagi Titi maupun Tian -sapaan akrab Christian-, bermain dalam film bertarafglobal menjadi impian berdua. "Waktu ditawari sama sutradaranya, kamitertarik banget. Sebab, itu bisa jadi peluang untuk lebih dikenal di luarnegeri," terang Titi dalam jumpa pers di Caf

jf_pratama posted on 6-4-2007 06:35 PM

Film (Cita Rasa) Indonesia

FILM,contoh bentuk media massa industrial. Sebagaimana industri lainnya, iamemerlukan modal besar, teknologi canggih, mata rantai produksi yang salingmenunjang, serta pemasaran yang global sehingga mampu menjual dengan “hargasatuan”yang murah.

AmerikaSerikat adalah contoh unggul penguasaan industri perfilman. Modal yang demikianbesar (honor seorang artis setara dengan produksi 30 judul film kita),teknologi yang susah atau tak mungkin ditiru, dengan mata rantai industri yangberkesinambungan dengan studio,perlengkapan laboratorium yang praktis ada didalam negeri atau malah satu tempat. Kita tahu, untuk ajang pemberian PialaOscar pun acaranya bisa dijual ke seluruh dunia, termasuk gosip-gosip artisnya,pemasaran yang mendunia, jadwal film yang akan diputar liburan tahun ini atautahun depan di Indonesia sudah tersedia judul yang sesuai,termasuk rumusanuntuk berpromosi.

(Spandukatau baliho film kartun The Lion King tak boleh dipasang di Taman SafariCisarua atau kebun binatang karena citra binatang tidak bebas).Sampai hargatiket yang sama di gedung bioskop yang juga memutar film Indonesia, yang ongkosproduksinya tak sampai seperdua ratusnya. Indonesia tidak sendirian menghadapiproduk industri Hollywood ini.Negara dengan ketahanan budaya,seperti Prancisyang sempat berjaya diawal tahun 70- an, sudah tersingkir. Juga Jerman yangmenyisakan penyelenggaraan “festival alternatif

jf_pratama posted on 6-4-2007 11:24 PM

Filsafat Ilmu dalam Film Horor Kita

Minggu, 01/04/2007

DUApekan lalu,saya benar-benar tergoda oleh ajakan seorang sahabat untuk nontonsebuah film horor,Pocong 2.Pada mulanya saya enggan menerima ajakan sahabatmanis itu.“Kamu kanmenyukai filsafat.

Sayasudah membaca sinopsis film ini di sebuah majalah nasional, ada dialog tentangfilsafat yang cukup memikat. ”Begitu kira-kira sahabat saya ini mencobamemengaruhi saya untuk menerima ajakannya. Dia tahu persis, betapa saya kurangrespect terhadap film-film nasional—tidak sekadar karena alasan kualitas,tetapijuga karena ‘emosi

jf_pratama posted on 8-4-2007 11:20 PM

Mendadak Dangdut
Sutradara:Rudy Soedjarwo
PenulisSkenario: Monty Tiwa
Pemain:Titi Kamal, Kinaryosih, Dwi Sasono


Menilikjudulnya, film drama komedi ini memang bercerita tentang musik dangdut, tetapidalam arti yang lebih luas. Dangdut adalah sebuah bahasa keberpihakan untukrakyat kecil. Lokasi manggungnya pun serba di kampung.

Filmini mengisahkan Petris (Titi Kamal), penyanyi rock alternatif terkenal yangsecara mendadak harus berganti profesi menjadi penyanyi dangdut. Pemicunya, iadan kakaknya, Yulia (Kinaryosih), secara tidak sengaja terlibat dalam satujaringan peredaran narkoba.

Petrisdan Yulia pun melarikan diri dari kejaran polisi hingga sampai di sebuahkampung yang sedang menggelar hajatan musik dangdut. Grup dangdut"Senandung Citayam" pimpinan Rizal (Dwi Sasono) kebetulan sedangbutu* penyanyi baru. Sejak itu, Petris dan Yulia tinggal bersama Rizal,manggung dari kampung ke kampung. Bahkan, Petris harus berganti nama, menjadiIis Maduma.

Adegandemi adegan film ini sarat dengan kekocakan. Menghibur tetapi ada pesan moralyang kental. Skenario memang digarap dengan apik, terutama dialog-dialog yangbermakna, serta keterkaitan adegan demi adegan yang masuk akal.

MendadakDangdut meraih beberapa unggulan FFI 2006. Kinaryosih mendapat piala Citrasebagai aktris pendukung perempuan terbaik. (IVV)

jf_pratama posted on 9-4-2007 10:41 PM

Senin,09 Apr 2007,
Tahan Emosi di Film Baru
Garap Just Married, Hanung Terhadang Jadwal Pemain

JAKARTA - Bekerja sama dengan bintang film terkenal ternyata menimbulkankesulitan tersendiri bagi Hanung Bramantyo. Sutradara terbaik Festival FilmIndonesia (FFI) 2005 itu harus pandai mengatur waktu dan menahan emosi dalampenggarapan film terbarunya, Just Married. "Penyebab utamanya adalah kesulitanmenentukan jadwal syuting mereka," kata Hanung saat dihubungi kemarin.

Di antara pemain film terbaru Hanung itu adalah Nirina Zubir, Ringgo AgusRahman, Aming, Meriam Bellina, Desta, Stephen Richard, Iga Mawarni, dan JajaMiharja.

"Untuk film ini saya coba pakai pemain-pemain bintang. Biasanya sayaselalu memakai bintang baru, munculkan bakat baru," ungkap sutradara filmBrownies, Jomblo, dan Lentera Merah itu.

Hanung penasaran, ingin tahu seperti apa hasil filmnya jika dimainkanbintang-bintang terkenal. Hanya, sebelum melihat hasil, tantangan yang harusdihadapi Hanung cukup besar.

Para pemain terkenal tersebut memiliki jadwal yang sangat padat. Mereka padaumumnya tidak bisa memfokuskan waktu hanya untuk syuting Just Married.

Nirina, misalnya. Menurut Hanung, gadis yang biasa dipanggil Na itu hanya bisameluangkan waktu pagi sampai pukul 14.00. Lalu, Meriam Bellina hanya bisasyuting sampai pukul 12.00. Sementara itu, Desta pada Sabtu dan Minggu tidakbisa datang ke lokasi syuting karena harus tur bersama grup bandnya, Club 80’s.Belum lagi jadwal Ringgo dan Aming yang tak kalah padat.

Padahal, lanjut Hanung, ada saat di mana Nirina dan Meriam Bellina harusbertemu dalam satu adegan atau adegan bersama antara Nirina dan Desta."Ini tantangan tersendiri buat saya. Bagaimana membina diri danmempertahankan emosi. Saya harus siap-siap break di tengah syuting karenapemain harus pergi," ujarnya.

Hingga kemarin, syuting Just Married sudah berlangsung 14 hari. Awalnya, Hanungsempat memasang target selesai 19 hari. Namun, target itu dipastikan tidaktercapai. "Kemungkinan jadi 25 hari. Tapi, masih on paper kok. Artinya,memang sudah ada prediksi dari hasil hitung-hitungan jadwal," kata priakelahiran 1 Oktober 1975 itu.

Just Married akan dirilis pada November 2007 mendatang. Menurut Hanung, filmnyaitu merupakan potret sosial, bagaimana sebuah pernikahan dipandang begitupenting oleh orang tua tertentu sebagai ukuran kesuksesan dan melepas tanggungjawab terhadap anak.

Hanung akan menggambarkan kehidupan masyarakat urban di tengah kota Jakartadengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Nirina berperan sebagai Mae, seorangsarjana pengangguran. Orang tuanya memaksa Mae segera menikah agar tanggungjawab sebagai orang tua bisa dilepaskan. (gen)

jf_pratama posted on 13-4-2007 10:19 PM

Kelamnya Sebuah Fantasi
Jum'at, 13/04/2007

Judul Film : Kala Pemain : Fachri Albar, Ario Bayu,Shanty, Fahrani, Sujiwo Tejo, Tipi Jabrik, Arswend Nasution, Frans Tumbuan, Yose Rizal Manua
Sutradara/Penulis : Joko Anwar
Produser : Manoj Punjabi dan Dhamdo Punjabi
Distributor : MD PICTURES  

JAKARTA(SINDO) –Karena itu, latart empat dan waktunya bukan hal terpenting. Meskidemikian, film yang dibintangi Fachri Albar dan penyanyi Shanty ini terasabegitu mencekam dengan misteri yang bisa merenggut nyawa siapa saja.

FilmKala yang dikategorikan sebagai film misteri thriller terasa semakin kelamdengan gaya noir sang sutradara yang mantan jurnalis ini. Karena itu, tempatdan waktu bukan sesuatu yang mengikat karena alur film tentang sebuah misteripembunuhan dan perburuan harta karun begitu kuat sehingga menyedot perhatian.
Gayafilm noir muncul antara 1940-an atau 1950-an dan biasanya digunakan mendukungisi cerita yang mencekam.Gaya itu digambarkan melalui visual hitam-putih(terkadang sephia) dengan pencahayaan yang rendah. Hal itu dikenal sebagaiteknik low-key cinematography yang berakar dari sinematografi ekspresionisJerman.

FilmKala menceritakan sosok Janus (Fachri Albar), seorang jurnalis yang terancamdipecat dan diceraikan istrinya, Sari (Shanty), karena mengidap narkolepsi.Sebuah gejala yang membuatnya sering tertidur saat cemas, sakit, dan terkejut.Suatu ketika, Janus meliput peristiwa pembunuhan lima lakilaki yang dibakarmassa.

Hadirpula Eros (Ario Bayu), seorang polisi, yang menyelidiki kasus tersebut.Darisitu,keduanya seperti terperangkap dalam pusaran misteri dan bahaya. Sebab,mereka memiliki rahasia penting tentang lokasi harta karun. Rahasia itu menjadipetaka karena itu hanya boleh diketahui satu orang.

Setiapkali Janus menceritakan rahasia itu kepada orang lain, orang itu mati dengancara yang tragis. Saat Eros mengetahui rahasia itu, mereka berdua sama-samatahu bahwa salah seorang dari mereka akan mati.Kecuali,mereka bisa menemukanSang Ratu Adil sebelum malaikat pencabut nyawa datang.

’’It’s afantasy,

tavarat posted on 13-4-2007 11:55 PM

gambor pribiu xde ker???

jf_pratama posted on 15-4-2007 11:08 PM

"Nagabonar Jadi Dua"
Sebuah Aktualitas Nilai
Edna CPattisina

Komedidalam dunia film Indonesia acap kali terjeblos menjadi komedi murahan. Tidakdengan yang ini: "Nagabonar Jadi Dua". Film ini memicu tawaterbahak-bahak sekaligus rasa pedih di hati.

Ditengah tawa, penonton digelisahkan dengan pertanyaan tentang aktualitasnilai-nilai yang relatif sudah tergerus zaman: keindonesiaan dan religi. Inisaja sudah sebuah perkecualian di tengah perfilman kita saat ini, yangkebanyakan berkutat pada horor tak cerdas dan cinta dangkal remaja.

Betapapun,jangan lalu menjadi khawatir film ini menjadi berat dengan "ideologi"yang diusungnya. Sentilan ataupun dialog dalam film ini ringan dan segar.

Filmini sekaligus menjadi satu dari sedikit film Indonesia kontemporer yang mampumenjadi refleksi sosial zamannya. Duet sutradara Deddy Mizwar dan penulisskenario Musfar Yasin memiliki sikap dan gagasan yang dinyatakan dengan jelas.

Halserupa sudah terlihat sejak film Deddy sebelumnya seperti Kiamat Sudah Dekat(2003) dan Ketika (2004). Bentuk yang satiris kembali menjadi pilihan setelahdigunakan sebelumnya dalam Ketika yang mencela koruptor.

NagabonarJadi Dua mempertemukan dua generasi dalam satu saat. Sang anak, Bonaga (ToraSudiro), pengusaha muda di Jakarta, S-2 dari Inggris, bermobil mewah, kalausiang rapat, bila malam asyik ke dis****k bersama kawan-kawannya, Jaki (MikeMuliadro), Ronny (Uli Herdinansyah), dan Pomo (Darius Sinathrya). Merekamenjadi perwakilan dunia masa kini.

Sementarasi ayah, Nagabonar (Deddy Mizwar), yang buta huruf, tidak ingin jauh-jauh darikampungnya di Deli, Sumatera Utara. Dia mewakili generasi yang mengartikancinta Tanah Air dengan sudut pandang semangat Angkatan

jf_pratama posted on 15-4-2007 11:10 PM

"Nagabonar Jadi Dua"
Sebuah Aktualitas Nilai
Edna CPattisina


Nilailama vs situasi kini

Paraleldengan konflik utama, lewat perjalanan keliling Jakarta, Nagabonarmembentur-benturkan nilai-nilai lamanya tentang nasionalisme dengan situasimasa kini. Perjalanan ini membuatnya sadar bahwa zaman sudah berubah dannilai-nilai yang ia anut membutu*kan aktualitas.

Penontondibuat tertawa dengan "ziarah"-nya. Bagi Nagabonar, Taman MakamPahlawan dan Patung Jenderal Sudirman adalah simbolisasi kebangsaan. Sementaratempat-tempat itu bagi kehidupan modern dianggap sebagai monumen yangteralienasi dari kehidupan dan nilai-nilai modern. Ini terlihat, misalnya, darireaksi Umar yang serba salah saat menemani Nagabonar.

Sentilan-sentilanyang muncul memiliki banyak nuansa. Misalnya saat Nagabonar bertanya kepadaPomo, mengapa tak ada lapangan sepak bola di kompleks perumahan yang sedangmereka bangun.

"Apakau tidak ingin bangsa ini menang sepak bola? Bagaimana bisa menang kalau tidakada lapangan," kata Nagabonar.

Berbagaiadegan satir hadir dalam film ini. Seperti saat Nagabonar berhadapan denganpolisi lalu lintas yang melarang bajaj masuk ke sebuah kawasan. Perdebatan itumengandung kelucuan dan kekritisan pada saat sama.

Nagabonarmendesakkan pertanyaan, alasan apa yang membuat peraturan tidak mengizinkanbajaj yang beroda tiga masuk kawasan itu. Sementara sang polisi hanya siapdengan satu jawab, itu peraturan.

Kegeramanitu berlanjut pada adegan berikutnya yang menjadi salah satu ikon film ini,yaitu saat Nagabonar berayun-ayun di patung Jenderal Sudirman dan memintanyamenurunkan tangan.

"Turunkantanganmu, Jenderal. Mengapa kau hormati mereka? Apa karena mereka berodaempat?" kata Nagabonar.

SementaraBonaga harus menghadapi masalah sehari-hari yang membuat penonton berpikirtentang aktualitas rasa cinta Tanah Air. Serupa dengan ayahnya—digambarkanberkali-kali dalam bahasa tubuh mereka yang serupa—Bonaga bukannya tanpanilai-nilai kebangsaan.

Tidakhitam-putih

NagabonarJadi Dua tak melihat semuanya dalam persepsi hitam-putih. Bonaga, misalnya,walau membuat ayahnya kaget karena bertransaksi dengan Jepang, menolakmerekayasa jumlah pajak dan tak ingin menyodorkan perempuan sebagai"pelicin".

"Itusama saja seperti kau menyodorkan ibu dan adik perempuanmu kepada mereka,"ucap Bonaga marah.

Menjelangakhir film, Deddy memasukkan isu religius yang sejak film Kiamat Sudah Dekatmenjadi ketertarikannya. Nagabonar bingung melihat Jaki yang berjoget di lantaidis****k setelah shalat. Ia sendiri lalu belajar mengaji sebab takut neraka.

Kalaupunada kekurangan, lebih berkaitan dengan konsep visual yang kurang modern.Tentang gambar, begitu banyak adegan close-up dengan tujuan mendramatisasisuasana lewat ekspresi tokoh-tokoh. Sayangnya, penggunaannya terlalu banyakseperti sinetron. Ini misalnya adegan terakhir Bonaga bercakap-cakap denganMonita (Wulan Guritno). Pengucapan "apa kata dunia" yang menjaditagline oleh Bonaga pun sering tak pas.

Inimenjadi contoh bumbu-bumbu verbal yang sedikit lagi bisa menjebloskan film jadisarat khotbah. Untung akting Deddy Mizwar memukau. Dia menghidupkan, bahkanbisa dikatakan mendominasi, film ini. Perubahan ekspresi yang ditampilkanLukman Sardi pun meyakinkan.

Lepasdari berbagai kekurangannya, pencapaian Nagabonar Jadi Dua terjadi lewatkemampuan mengundang tawa sekaligus kepedihan pada saat sama.

Deddyjuga menunjukkan bahwa film bisa menjadi media ekspresi pribadi yang jujur,bahkan untuk pergulatan yang belum selesai.

"Kesalahankuadalah aku hidup pada zamanmu. Aku tak mengerti, tetapi aku berusaha memahami.Karena aku mencintaimu," ucap Nagabonar kepada Bonaga.

jf_pratama posted on 19-4-2007 08:52 PM

Noir dalam Film Kala

Tidak banyak pembuat film komersial Indonesia yang bereksperimen menggunakan nuansa noir dalam produknya. Mungkin karena harus menyesuaikan pasar yang belum tentu menyukai hal itu.

Sutradara Joko Anwar yang sebelumnya sukses dengan film Janji Joni, mencoba melakukannya. Film terbarunya yang berjudul Kala mengandalkan gaya sinematografi noir yang umumnya menampilkan suasana suram dan sedikit cahaya.
Meskipun Joko sendiri mengakui susah untuk memastikan apakah akan disukai penonton, tetapi menurutnya tidak banyak pembuat film di Indonesia yang menggunakan pendekatan ini.

"Mungkin kita perlu sedikit melakukan terobosan baru membentuk pasar. Pasar pun akan mendapat alternatif lain, dan tidak disuguhkan oleh film yang itu-itu saja," ujarnya dalam peluncuran film Kala di Jakarta, Kamis (12/4).

Kala merupakan produksi pertama MD Entertainment yang sebelumnya banyak bergerak dalam distribusi film di Indonesia. Direktur MD Entertainment, Manoj Punjabi, menyebutkan, pihaknya sudah lama tertarik untuk membuat film sendiri, tetapi ia belum menemukan film yang cocok.

"Setelah bertemu dengan Joko yang saya kenal sebagai sutradara Janji Joni, saya tertarik untuk memproduksi film itu. Mudah-mudahan film ini dapat diterima di masyarakat karena memberikan hal yang berbeda," ujarnya.

Kala yang bertemakan aksi dan thriller ini dibintangi oleh Fachri Albar, Ario Bayu, Shanty, Fahrani, Sujiwo Tejo, Tipi Jabrik, Arswendi Nasution, Frans Tumbuan, dan Jose Rizal Manua. Film ini mengambil latar belakang sebuah negeri yang sedang dilanda kekacauan, kekerasan, bencana alam dan ketidakadilan.

Bercerita tentang Janus (Fachri Albar), seorang jurnalis yang terancam dipecat dan diceraikan oleh istrinya Sari (Shanty) karena mengalami narkolepsi; sebuah gangguan otak yang membuatnya jatuh tertidur jika mengalami perubahan emosional secara cepat, seperti cemas, sakit, dan terkejut.

Suatu hari Janus harus meliput sebuah berita tentang pembunuhan lima laki-laki yang dibunuh oleh massa. Bersama dengan Eros (Ario Bayu), seorang polisi yang ditugaskan menyelidiki kasus tersebut, keduanya larut dalam labirin konspirasi penuh misteri dan bahaya.

Janus tanpa sengaja menjadi satu-satunya orang yang mengetahui sebuah rahasia penting. Setiap kali dia menceritakan rahasia itu kepada orang lain, orang itu mati dengan mengerikan. Saat Eros mengetahui rahasia itu, mereka berdua sama-sama tahu bahwa salah satu dari mereka akan mati, kecuali mereka bisa menemukan sang Ratu Adil sebelum malaikat pencabut nyawa datang.

Joko yang juga penulis cerita menyebutkan ihwal asal-muasal ide cerita dalam film. Disebutkan, ide cerita itu sudah lama ada dalam benaknya. Berawal ketika ia bekerja sebagai jurnalis. Saat itu ia harus meliput peristiwa pembakaran lima orang di terminal Kampung Rambutan.

"Sebenarnya di Janji Joni, hal ini pun pernah di singgung. Ketika ada dialog yang bercerita tentang adanya pembakaran terhadap lima orang yang baru turun dari bus," jelasnya.

Dari ide cerita itu, Joko menangkap gaya yang pantas untuk ditampilkan dalam film itu adalah gaya noir. "Noir sebenarnya gaya yang mengandalkan low key cinematography. Nuansa suram dan sedikit cahaya mendominasi film. Selain itu juga banyak memainkan bayangan. Ini dilakukan untuk memunculkan mood," jelasnya.

Cerita film noir klasik umumnya bertemakan kriminalitas, penyelidikan, pembunuhan dan elemen sensualitas yang tinggi, tetapi menurutnya gaya film ini belakangan muncul dalam Pulp Fiction, LA Confidential, atau Batman Begins. Dalam Kala, cerita pembunuhan pun menjadi topic cerita. Untuk menciptakan yang diinginkan Joko bekerja sama dengan Ipung Rachmat Syaiful sebagai director of cinematography. Sebelumnya Joko juga bekerja sama dengan Ipung dalam Janji Joni.

Noir yang ditampilkan Kala memang benar-benar suram, bahkan kadang kala suasana siang hari seperti senja. Noir yang ditampilkan dalam Kala semakin membuat thriller itu mencekam setelah munculnya makhluk seram, yang mungkin sejenis smuggle. Film ini menjadi menarik ketika alur cerita, yang umumnya menjadi faktor penting penilaian penonton, tidak bisa ditebak.

Namun film ini mungkin masih mengalami kurang sempurnanya visual efek, seperti dalam beberapa adegan dalam film itu. Visual efek memang sering menjadi kelemahan film-film produksi dalam negeri, di samping logika cerita. Namun secara mungkin film ini tidak kalah dengan film Joko sebelumnya, Janji Joni.

[ Last edited by  jf_pratama at 19-4-2007 08:54 PM ]

jf_pratama posted on 19-4-2007 08:59 PM

Penulis Monty Tiwa sutradarai film pertamanya
oleh : Algoth Putranto

JAKARTA: Lama terkenal sebagai penulis naskah handal, Monty Tiwa segera sutradarai film pertamanya "Maaf Saya Menghamili Istri Anda" yang diproduksi Sinemart Pictures.

"Kemarin kami proses reading dan hari ini melihat lokasi syuting di bilangan Cilandak. Syutingnya mulai besok dan akan berlangsung selama dua pekan," ujar Monty yang juga bertindak sebagai penulis naskah film ini.

Film "Maaf Saya Menghamili Istri Anda" akan dibintangi Agus Ringgo Rahman, Mulan Kwok dan Shanty.

Plot film ini berkisah tentang aktor kelas teri bernama Dibyo (Agus Ringgo Rahman) yang mencintai dan menghamili seorang istri kepala preman yang cantik namun humoris bernama Mira (Mulan Kwok).

Pria jebolan University of Kansas ini banyak menelurkan naskah film a.l Andai Ia Tahu, Vina Bilang Cinta, Biarkan Bintang Menari, 9 Naga, Juli di Bulan Juni, Ujang Pantry 1 dan 2, Mendadak Dangdut, Denias, Pocong 1 dan 2, Dunia Mereka, Shanaz dan Mas Mas.

Sederet penghargaan telah diraihnya a.l Best Screenplay Piala Vidia FFI 2005 untuk Juli di Bulan Juni, Best Editing Piala Vidia FFI 2006 untuk Ujang Pantry 2 dan Best Screenplay Piala Citra di FFI 2006 untuk Denias, Senandung di atas Awan. (tw)

[ Last edited by  jf_pratama at 19-4-2007 09:00 PM ]

jf_pratama posted on 24-4-2007 11:30 PM

"Kala" - Dunia yang Absurd

Di jagat mana ada wartawan tempo doeloe yang merokok sigaret filter masa kini. Dunia apa yang menyatukan hantu dengan manusia penjaga harta karun presiden. Jawabannya

jf_pratama posted on 24-4-2007 11:38 PM

Film "Maaf, Saya Menghamili Istri Anda"
Motivasi Menghibur Tanpa Pretensi

Apa jadinya jika istri Anda dihamili oleh orang lain? Hati langsung panas, rumahtangga kisruh, gosip pun merebak.

Tema itulah yang coba diangkat dalam film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (MSMIA). Dari judulnya yang nyeleneh, bisa ditebak film ini bergenre komedi, bukan horror apalagi laga. MSMIA merupakan film perdana rumah produksi Sinemart yang tayang di tahun 2007. Rencananya, MSMIA akan mulai diputar di bioskop pada 21 Juni mendatang. Saat ini, film tersebut masih menjalani proses syuting, yang rencananya dilakukan selama sepekan, dari 18 - 24 April 2007.

Kisahnya bertutur tentang kehidupan Dibyo (Ringgo Agus Rahman). Pria lugu ini menggantungkan hidupnya dari profesi figuran sinetron dan film. Namun, meski bermasa depan suram, Dibyo senang sekali menebar pesonanya kepada perempuan sekitar. Termasuk pada Mira (Mulan Kwok), seorang gadis Batak yang cantik. Tanpa dinyana, Dibyo dan Mira jatuh cinta betulan. Bahkan, akibat hubungan terlalu dalam, Mira pun hamil. Padahal, Mira masih terikat pernikahan dengan Lamhot (Eddy Karsito), preman terkenal di Jakarta. Konflik pun mengalir seputar bagaimana Dibyo yang ingin bertanggungjawab kepada Mira, harus kucing-kucingan dengan Lamhot. Seperti Mendadak Dangdut, Pocong dan Pocong 2, skenario MSMIA juga merupakan buah karya Monty Tiwa.

Uniknya, di film ini, Monty juga sekaligus naik kelas, duduk di bangku sutradara. Bagi Monty, ini merupakan kesempatan emas. Menjadi sutradara merupakan bentuk kelengkapan karir dan obsesinya di dunia film. "Saya sudah pernah mencoba jadi editor, penata suara, penulis skenario, lalu apa lanjutannya? Saya berpikir, kalau membuat sesuatu, saya ingin meneruskannya sampai akhir. Jadi sutradara adalah jawabannya," tutur Monty ketika ditemui di lokasi syuting di daerah Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (20/4).

Dengan menjadi penulis skenario sekaligus sutradara, Monty berharap ia bisa menjaga mood dan kualitas film karena ia paham betul pengerjaannya dari awal hingga proses produksi dilakukan. Sementara mengenai judul MSMIA yang terkesan nyeleneh, Monty mengaku tidak memiliki maksud apa-apa. Ia hanya ingin mengembalikan film komedi Indonesia ke masa keemasan karya-karya sineas Nyak Abbas Acup, seperti Cintaku di Rumah Susun, Kipas- Kipas Cari Angin atau Naga Bonar. "Film-film Nyak Abbas Acup itu semuanya menghibur, tanpa ada pretensi apa-apa.

Saya ingin membuat film komedi seperti itu," kata Monty. Meski begitu, Monty tetap menyisipkan pesan ke dalam film ini, seperti yang selalu ia lakukan dalam film-film sebelumnya. Di MSMIA, ia mencoba memberikan pesan tentang betapa pluralnya kehidupan di Indonesia. Begitu banyak perbedaan, namun jika disiasati akan bisa menjadi satu.Di film ini, Monty yang menjadi sutradara ditemani oleh rekan tetapnya, Rudi Soedjarwo yang duduk di bangku supervisor. Keduanya sudah kerap bekerja sama dalam film-film seperti Mendadak Dangdut, Pocong maupun Pocong 2. Menurut Monty, ini bukanlah bentuk ketidakpercayaan Rudi terhadap dirinya. Namun, karena sejak awal konsep MSMIA dilakukan keduanya bersama-sama, Rudi pun akhirnya duduk di bangku supervisor, menjadi mentor, sekaligus pengawas film. "Kalau kami dipisah, justru saya akan merasa ada yang hilang. Kehadiran Rudi juga banyak membantu saya. Ia sudah punya banyak jam terbang sehingga saya bisa minta petunjuk serta diskusi tentang penyutradaraan film ini," lanjutnya. Yang juga menjadi gimmick dalam film ini adalah kehadiran Mulan Kwok sebagai salah seorang pemain utama. Mantan personel Ratu itu menjadi gadis modern masa kini yang harus tunduk perjodohan keluarga dengan pria yang tak dicintainya. Kehadiran Mulan, menurut Monty, tidaklah dengan maksud khusus.

Kala mengaudisi pemain, pihak Sinemart menyodorkan beberapa nama pemain yang dirasa cocok dengan karakter Mira. Namun, Monty lebih sreg dengan Mulan. "Saya melihat Mulan itu sangat cocok dengan karakter Mira. Wajahnya modern, tapi tindak-tanduk tetap konvensional. Karakter aslinya juga begitu. Pemain lain yang diaudisi juga sama-sama bagus. Tapi masalah kecocokan, tetap saya merasa Mulan-lah yang paling pas," tambahnya.

jf_pratama posted on 29-4-2007 12:12 PM

Roman Usang dalam "Ruang"

Judul : Ruang
Skenario : Teddy Soeriaatmadja dan Adi Nugroho
Pengedar : PT Video Ezy Internasional

Seorangdiplomat, Rais (diperankan Slamet Rahardjo Djarot), pulang ke Jakartakarena ibunya, Flori, meninggal dunia. Sesampai di rumah, Rais barutahu dia bukan anak kandung Flori. Rahasia itu terkuak setelah ia danadiknya, Rima (Reggy Lawalatta), membuka kotak peninggalan ibunya.

Florimenuliskan semua rahasia masa lalu ayah Rais, Chairil. Dari sini filmkemudian mengambil adegan kilas balik yang mengisahkan kehidupanChairil muda (Winky Wiriawan) 45 tahun silam di pulau berpemandanganindah.

Chairildatang ke pulau tersebut dengan niat mencari pamannya, satu-satunyakeluarga yang masih tersisa. Namun, sang paman, Hamdani, ternyata sudahmeninggal lima tahun lalu. Akhirnya Chairil hidup di bekas rumahpamannya yang berhadap-hadapan dengan rumah Flori muda (AdiniaWirasti). Flori jatuh cinta kepada Chairil yang rupawan dan sukamenyendiri untuk menulis.

Namun,Chairil justru jatuh cinta kepada Kinasih (Luna Maya), putra saudagar,pemilik perkebunan terbesar di pulau itu. Meski menyajikangambar-gambar indah dan fotografis, Ruang menjadi membosankan dengandimasukkannya unsur roman klasik yang mudah ditebak dan sebenarnyasangat "basi" dalam khazanah perfilman Indonesia. (DHF)

[ Last edited by  jf_pratama at 29-4-2007 12:15 PM ]

linn_192 posted on 29-4-2007 11:48 PM

sudah nonton filem Jakarta Undercover dan Nagabonar Jadi 2. Luna maya belakon bagus sekali dlm Jakarta Undercover, tp kalo nak tak kering gusi tgk Nagabonar tu. very the lawakssss. kalo ada dvd kt msia ni nak beli lah...

jf_pratama posted on 30-4-2007 06:24 PM

Festival Film Internasional Singapura Ke-20

Opera Jawa Raih Penghargaan Film Asia Terbaik 2007

Istimewa - Film Opera Jawa

Film Opera Jawa meraih penghargaan Film Asia Terbaik 2007 di ajang Festival Film Internasional Singapura (FFIS) ke-20. Film karya sutradara Garin Nugroho itu masuk dalam 11 film yang dikompetisikan, setelah melewati seleksi dari 300 film yang dikirim 45 negara.

Film Opera Jawa juga menjadi film penutup penyelenggaraan festival. Sebelumnya, film-film asal Indonesia juga sempat diputar di FFIS dalam forum Asian Cinema yakni Betina karya Lola Amaria, 3 Hari Untuk Selamanya karya Riri Riza, dan Koper karya Richard Oh.

"Kemenangan ini menunjukkan bahwa kebudayaan lokal adalah kekuatan yang menjadi symbol global selama kita mempunyai gagasan dengan manajemen mengelola kekuatan local. Sebut saja, Peter Brooks telah membuktikannya lewat Mahabarata dan Robert Wilson dengan Ilaga Ligo," ujar Garin.

Sejak diluncurkan tahun 2006, film Opera Jawa telah banyak meraih penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Antara lain: predikat Best Actress (Artika Sari devi) dan Best Composer (Rahayu Supanggah) di Festival Tiga Benua Nantes, Prancis. Film ini juga menyabet penghargaan untuk kategori Best Composer (Rahayu Supanggah) di Hong Kong Inter- national Film Festival. Di ajang FFI, Opera Jawa juga menerima penghar- gaan untuk kategori Komposer Terbaik dan Penu- lisan Cerita Adaptasi ter-baik (Garin Nugroho dan Armantono).

FFIS telah memasuki tahun ke-20 sejak diselenggarakan tahun 1987. Festival ini telah menjadi festival bergengsi di Asia dan telah membawa Asia ke pasar dunia. FFIS berfokus pada Asian sinema dan telah menjadi platform untuk film-film baru Singapura dan jendela film-film Asia Tenggara.

Silver Screen

Untuk mendorong perbaikan mutu di antara pembuat film Asia, FFIS memperkenalkan sebuah penghargaan yang disebut Silver Screen Award yang mulai diberikan pada tahun 1991. Philip Cheah sebagai direktur FFIS telah banyak berjasa membawa karya-karya Indonesia dari awalsampai ke dunia internasional, seperti Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho.

Dalam ajang FFISini, film Other Half (Tiongkok) karya Ying Liang mendapatkan Jury Prizes. Sementara itu, kategori Best Director dimenangi Shawkat Amin Korki asal Irak lewat karya Crossing The Dust.

Juri FFIS juga memilih Carlos Chahino yang bermain dalam film The Last Man garapan sutradara Lebanon Chassan Salhab sebagai Aktor Terbaik, sedangkan kategori Aktris terbaik dimenangi Han Hyo Ju yang bermain dalam film Ad Lib Night karya sutradara Korea Selatan Lee Yoon Ki .

FFIS memiliki sejumlah antara lain: Silver Screen Awards yang merupakan forum kompetisi. Ada juga program Asian Cinema merupakan forum pemutaran film-film Asia.

FFIS juga menyelenggarakan program world Cinema forum pemutaran film-film dari seluruh dunia. Special Program juga diadakan FFIS yang merupakan forum untuk spesial program seperti pemutaran film-film yang memenangi Silver Screen Award dari tahun 1991-2006. FFIS juga diramaikan dengan pameran, forum diskusi, semina dan lokarkarya.

jf_pratama posted on 30-4-2007 06:28 PM

Festival Film Bandung 2007"Nagabonar Jadi 2" Rebut 6 Penghargaan Terpuji

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/30/Hiburan/30filmf1.gif
Pemain film, sutradara, dan produser senior, Chitra Dewi(tengah),memberikan sambutan setelah mendapat penghargaan khusus dalamFestivalFilm Bandung (FFB) 2007 di Bandung, Minggu (29/4). Panitiamenilaidedikasi dan sumbangsihnya terhadap dunia perfilman Indonesiasangattinggi. Penghargaan serupa pernah diterima oleh Rachmat HidayatdanIdris SardiFoto-foto: SP/Adi Marsiela


http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/30/Hiburan/30filmfe.gif

Pemeran utama pria dalam film "Nagabonar Jadi 2", Tora Sudiro,meluapkan kegembiraannya setelah terpilih menjadi pelakon utama priaterpuji dalam Festival Film Bandung (FFB) 2007 di Bandung, Minggu(29/4).
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/30/Hiburan/300407ta.gif
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/30/Hiburan/30filmf3.gif
Pemeranutama wanita film "Heart", Nirina Zubir, menunjukkan piala yangdiraihnya sebagai pelakon utama wanita terpuji dalam Festival FilmBandung (FFB) 2007 di Bandung, Minggu (29/4). Dia mengalahkan Luna Maya("Jakarta Undercover"), Raihaanun ("Badai Pasti Berlalu"), Titi Kamal("Mendadak Dangdut"), dan Wulan Guritno ("Nagabonar Jadi 2").

Film Nagabonar Jadi 2berhasil menyabet penghargaan terbanyak dalam Festival Film Bandung(FFB) 2007. Para pengamat film FFB meloloskan enam dari sembilannominasi terpuji FFB 2007 untuk film tersebut. Pengumuman film dannarafilm terpuji FFB 2007 berlangsung di Hotel Horison, Bandung, Minggu(29/4) malam.

Dalam FFB ke-20 ini, tercatat ada 31 judul film dan 25 judul sinetronyang masuk dalam nominasi. Seluruh nominasi tersebut sudah ditayangkandalam kurun waktu satu tahun semenjak bulan Maret 2006.

"Tujuan kami sederhana, hanya ingin memberitahukan kepada masyarakat,film atau sinetron apa yang layak ditonton," ungkap Ketua Umum FFB2007, Eddy D Iskandar dalam sambutannya.

Enam penghargaan bagi film Nagabonar Jadi 2itu berasal dari nominasi editing (Tito Kurnianto), penulis skenario(Musfar Yasin), pelakon pembantu pria (Lukman Sardi), pelakon utamapria (Tora Sudiro), sutradara (Deddy Mizwar), dan film terpuji.

Untuk kategori sinetron terpuji FFB 2007, terpilih Dunia Tanpa Koma dalam nominasi sinetron drama. Sedangkan untuk nominasi sinetron lepas, dimenangkan oleh sinetron Guruku Sayang, produksi dari PT Media Citra Nusantara.

Selain itu, FFB juga memberikan sebuah penghargaan khusus kepada pemainfilm, sutradara, dan produser senior, Chitra Dewi (73). Panitia menilaidedikasi dan sumbangsihnya terhadap dunia perfilman Indonesia sangattinggi. Penghargaan serupa pernah diterima oleh Rachmat Hidayat danIdris Sardi.
"Saya terharu, ko masih ingat," tutur Chitra sembari dipegangi cucunya di atas panggung.

Panitia juga menetapkan film Denias sebagai film etnis terpuji. Penghargaan dalam bentuk khusus ini sebelumnya tidak ada dalam nominasi FFB 2007.
Dalam festival kali ini ada 15 nominasi yang dinilai untuk kategorisinetron, antara lain sinetron drama terpuji, sinetron remaja terpuji,sinetron laga/misteri terpuji, sinetron komedi terpuji, sinetron FTV(lepas), dan lain-lain.

Sementara untuk film, ada 11 nominasi yang diperebutkan yaitu, nominasiediting terpuji, penata artistik terpuji, penata kamera terpuji, penatamusik, penulis skenario, sutradara, lakon utama pria terpuji, lakonutama wanita terpuji, pembantu pria terpuji, nominasi lakon pembantuwanita terpuji, dan nominasi film terpuji FFB 2007.

"Kriteria penilaian yang masuk nominasi hampir sama dengan kriteria penilaian Festival Film Indonesia (FFI),"ujarnya.

Tidak Sembarangan

Eddy menuturkan, dalam penjurian FFB, dewan juri memegang konsekuensiuntuk menerapkan kriteria yang telah ditetapkan. Pemilihan dewan juripun tidak dilakukan sembarangan, harus yang mengerti tentangperkembangan dunia sinetron dan perfilman nasional.

"Juri yang berpartisipasi di sini berasal dari berbagai profesi. Merekadipilih tidak hanya untuk ada FFB saja, tapi konsisten mengamati filmterus-menerus. Berbeda dengan juri FFI yang ditunjuk. Makanya,penilaian kami juga terpuji dan dijamin netral. Semua film dan sinetronyang tayang, ditonton semua. Ada tanggung jawab moral untukmenginformasikan masyarakat, apa saja yang layak ditonton," tambah Eddy.

Sementara itu, Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N),Deddy Mizwar mengharapkan agar dalam usianya yang ke-20, FFB dapatmenentukan sikap.
"Ini sejarah yang panjang. Untuk masuk FFB tidak perlu mendaftar, asalmereka ditayangkan di Bandung. Karena uniknya, FFB ini bukan hanyamilik orang Bandung, sudah saatnya go nasional," tegas dia.

Ketua regu pengamat sinetron, Aam Amilia menyatakan banyaknya sinetronyang ditayangkan oleh televisi tidak otomatis memenuhi kriteria yangdianggap layak. Banyak sinetron yang mengadaptasi ceritanya dari serialtelevisi di luar negeri seperti India, Korea, Taiwan, dan lainsebagainya.

"Sangat disayangkan, itu namanya bukan adaptasi tapi penjiplakan.Sinetron yang seperti itu kami anggap tidak layak masuk ke dalamnominasi FFB karena tidak ada unsur mendidik, menghibur dan memberikaninformasi. Hanya tontonan yang monoton dan tidak menarik," imbuhnya.

[ Last edited by  jf_pratama at 30-4-2007 06:34 PM ]

mrstan posted on 1-5-2007 01:31 PM

kenapa nggak ada filem "berbagi suami"?  itu filem indonesia terbaik tahun lepas.

slay789 posted on 2-5-2007 01:13 AM

ape kejadahnye cite indon

jf_pratama posted on 2-5-2007 09:20 PM

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/05/02/Hiburan/02bonaga.gif

"Nagabonar" Jadi Sejuta

Ajang Festival Film Bandung (FFB) 2007 yang baru saja usai digelar Minggu (29/4) membawa kesan tersendiri bagi film Nagabonar Jadi 2.Selain menyabet enam dari 11 nominasi terpuji dalam ajang tersebut,hari itu bertepatan satu bulan masa tayangnya di bioskop-bioskop.

Atas dasar itu, produser, pemain, dan para pendukung film produksi DemiGisela Citra Sinema ini membuat sebuah acara syukuran sederhana.

Dengan meminjam satu ruangan di Hotel Horison Bandung, mereka mengundang rekan-rekan wartawan untuk berbagi kebahagiaan.

Sebuah kue tart berbentuk kotak dengan angka satu juta di atasnyamenanti untuk dipotong. Sutradara sekaligus pemain film itu, DeddyMizwar menuturkan angka satu juta itu sesuai dengan jumlah penontonyang sudah mengapresiasi karyanya.

"Mudah-mudahan memasuki minggu kelima bisa melebihi (satu juta),"ujarnya sesaat sebelum memulai prosesi pemotongan kue bersama ToraSudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Tito Kurnianto (editor), SamuelWattimena (artistik dan kostum), Musfar Yasin (penulis skenario), danpendukung lain.

Syukuran itu, terangnya, merupakan bentuk terima kasih para pendukungfilm atas kerjasama para insan pers dalam mempublikasikan film Nagabonar Jadi 2. "Selain kerja keras seluruh teman-teman produksi, peran pers juga sangat penting dalam menggabungkan Nagabonar," sambungnya.

Sebagai apresiasi terhadap karyanya, mereka berhasil merebut enampenghargaan terpuji FFB 2007, dari nominasi editing (Tito Kurnianto),penulis skenario (Musfar Yasin), pelakon pembantu pria (Lukman Sardi),pelakon utama pria (Tora Sudiro), sutradara (Deddy Mizwar), dan filmterpuji.

Menurut Deddy, saat ini bioskop dikunjungi oleh beragam orang.Melebarnya segmen penonton tersebut, ungkap dia, menjadi pulang bagiinsan perfilman Indonesia untuk lebih mengembangkan genre film.

"Tidak terbatas pada satu genre saja. Lebih bagus majemuk," katanya.

Meski demikian, Deddy menuturkan, prestasi Nagabonar Jadi 2 tahun 2007 ini tidak bisa dibandingkan dengan Nagabonar' pendahulunya.

"Waktu itu tahun 1987, kita bicara dalam film tentang masa tahun 1948.Sangat berbeda simbol-simbolnya. Kalau dahulu, nasionalisme itu kitabangun dalam suasana perang, sekarang dalam bentuk penolakan Bonagaterhadap korupsi, penghormatan Nagabonar pada patung-patung pejuang,pembuatan pabrik di lahan masyarakat, dan lainnya," jelas dia.

[ Last edited by  jf_pratama at 2-5-2007 09:24 PM ]
Page: [1] 2 3 4 5 6 7 8 9 10
View full: INDONESIAN MOVIES (Gallery and Discussion)